Ketika mengobrol dengan Mbak Ficky Yusrini, mentor di Mindful Writing Class Pusaka Indonesia, saya tiba-tiba memikirkan satu hal. Apakah sesuatu yang di masa kecil saya anggap sebagai hal yang biasa saja, ternyata adalah sebuah identitas budaya yang tidak saya sadari?
Kami mengobrolkan tentang sebuah barang atau benda, di masa kecil, atau pun masa kini, yang membawa pada sebuah kenangan atau emosi tertentu.
Obrolan itu ternyata membawa ingatan saya pada sebuah tungku dari tanah liat, berbahan bakar kayu di rumah orang tua saya. Tungku itu sudah ada sejak sebelum saya lahir dan masih bertahan hingga saat ini.
Mbak Ficky bilang, di keluarganya tidak ada sebuah tradisi, atau barang yang mencerminkan bagaimana keluarganya mempertahankan sebuah tradisi tertentu.
Pikiran saya sontak membantah: itu hanya sebuah tungku jadul. Bukan tradisi. Keluarga saya pun tidak mempertahankn tradisi tertentu, kecuali dalam hal religi.
Tapi ketika saya mencoba mengenang kembali, saya jadi terpikir, jangan-jangan tungku sederhana itu adalah bagian dari sebuah tradisi atau budaya di keluarga kami.
Saya lahir di pinggiran Kota Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, dari sebuah keluarga Muslim. Perayaan terbesar dalam keluarga kami adalah pernikahan, kematian, dan hari besar keagamaan. Pesta pernikahan bisa dirayakan berhari-hari. Orang-orang berkumpul pada hari kemarian untuk menghibur yang ditinggalkan, ada kalanya dibuat peringatan 7 hari, 40 hari, dan seterusnya. Lalu pada hari raya keagamaan, setiap rumah akan dipenuhi dengan banyak makanan khas. Para tetangga saling berkunjung berganti-gantian.
Dan tungku yang saya maksudkan tadi, seingat saya, selalu ada di setiap perayaan. Ia ada pada acara pernikahan, kematian, maupun perayaan hari keagamaan. Saya kemudian teringat dengan api berwarna kuning kemerahan, suara kayu bakar yang berderak-derak saat dimakan api, kepulan asap berwarna kelabu, dan aroma masakan.
Tungku itu, umumnya dibuat dari kayu. Dengan ukuran kurang lebih 1 meter. Ada tiang di keempat sisi dan menjulang ke atas, menopang alas yang diberi timbunan tanah liat. Di tengah-tengah adalah batu berbentuk segitiga--sepasang. Jadi para orang tua bisa memasak dua jenis masakan sekaligus.
Tungku itu selalu menjadi andalan ketika keluarga kami harus memasak makanan yang membutuhkan waktu matang yang lama--sejenis masakan yang akan membuat repot kompor gas. Pada saat acara pesta, biasanya digunakan untuk mengukus nasi dalam jumlah banyak atau memasak daging. Pada saat hari raya idul fitri digunakan untuk memasak segala macam masakan berbahan beras. Kompor berbahan bakar gas hanya digunakan sebagai pendukung, untuk menumis bumbu atau memasak sayur dan ikan.
Ada keistimewaan yang dimiliki tungku itu yang tidak dimiliki oleh alat masak berbahan bakar gas maupun listrik. Di samping masakan lebih cepat matang, rasanya pun lebih enak. Nasi terasa lebih pulen. Sayur terasa lebih sedap. Entah kenapa. Di masa kecil, saya masih ingat orang tua saya pernah punya panci dari tanah liat yang biasa digunakan untuk memasak sayur atau ikan di atas tungku itu. Rasanya selalu lebih enak, berbeda dengan masakan yang menggunakan kompor gas.
Dengan segala macam perkembangan teknologi, kemunculan berbagai macam alat masak berbahan bakar listrik tidak pernah berhasil menyingkirkan tungku itu. Ia tetap ada, dari jaman ke jaman, bahkan ketika anak-anak beranjak dewasa dan membuat rumahnya sendiri.
Obrolan dengan Mbak Ficky kemarin, membuat saya berpikir: apakah itu semacam sebuah identitas budaya, bukan alat masak semata? Kenapa para orang tua kami tidak pernah menyingkirkan tungku kuno yang sudah kelihatan jadul itu? Sebagian ingatan saya dipenuhi rasa penasaran. Dan sebagian lainnya dipenuhi ingatan masa kecil. Ingaran yang seolah memanggil-manggil untuk kembali bisa mencicipi masakan yang dibuat di atas tungku itu.
Jakarta, 28 Desember 2025
