Refleksi

Sebuah Refleksi: Jadi, Kamu Mau Apa?

Sebuah Refleksi: Jadi, Kamu Mau Apa?

Jika kamu membaca tulisan ini karena tertarik dengan gambarnya yang cantik, jangan berharap saya akan memberi jawaban tentang apa itu 'meaningful purpose'. Karena sesungguhnya, saya juga sedang mencari ini, sambil bertanya kepada diri sendiri.

Pagi ini, saya mencari kembali tulisan Mbak Ay Pieta, Chief Mentor The Avalon Consulting yang berjudul Meaningful Purpose.

Artikel ini sebelumnya pernah dibahas dalam Kelas Kepemimpinan Unlock Your Sigma Potential (USP) yang diselenggarakan oleh The Avalon Consulting. Sudah beberapa hari ini rasanya gamang. Lalu ingatan kembali ke beberapa tahun silam. Ketika saya dipenuhi begitu banyak ambisi dan obsesi. 

Dulu, saya memiliki begitu banyak keinginan--yang kemudian saya sadari bahwa semua itu adalah hasrat egoistik semata. 

Sejak 2013 atau 2014, saya menghabiskan waktu mengumpulkan banyak informasi beasiswa S2 ke luar negeri. Saya rela menghabiskan tabungan untuk kursus Bahasa Prancis, Bahasa Inggris, ikut test IELTS, dan lain-lain. Dulu, saya menganggap semua hal itu sebagai investasi, yang kelak akan membawa saya pada semua hal yang saya impikan. 

Di 2019, saya memutuskan resign dari sebuah project yang sedang saya kerjakan, dan mendirikan sebuah usaha. Jangan bayangkan saya resign dengan begitu banyak persiapan, dalam hal finansial misalnya. Sisa tabungan yang ada di rekening, bahkan saya gunakan untuk membeli sebuah laptop. Tapi rasanya saya tidak memiliki ketakutan di masa itu. 

Saya bekerja tidak kenal waktu. Mengumpulkan ide. Membangun konsep. Saya bersedia tidur lebih larut. Bangun lebih awal. Saya berjalan ke sana-ke mari, untuk mencari koneksi dan membangun relasi. Usaha yang saya kembangkan berhasil, sebelum kopit menumbangkannya, dan saya kembali bekerja kantoran, di WWF-Indonesia. 

Belakangan, ketika saya berniat menjalankan kembali usaha yang dulu sempat mati, saya seperti kehilangan daya dorong. Dan saya kembali merenung tentang meaningful purpose. Yang saya sadari adalah, ketika saya melakukannya dulu, bahan bakar utamanya adalah citra diri. Saya ingin membangun sebuah citra sebagai seorang pekerja keras yang pantang menyerah, yang gigih berjuang menggapai cita-cita. Itu adalah Clarity of Purpose yang menjadi bahan bakar saya melakukan semuanya. 

Ketika saya belajar hidup berkesadaran dan mulai sadar bahwa saya ingin hidup yang lebih bermakna,  bahan bakar yang dulu saya miliki rasanya sudah tidak relevan lagi. Saya belum menemukan Clarity of Purpose maupun Meaningful Purpose. Di satu sisi saya ingin hidup berdaya. Lebih dari sekedar menghasilkan uang. Saya tidak merasa tertarik lagi membangun pencitraan. Saya ingin hidup otentik apa adanya, merdeka tanpa ketakutan-ketakutan, tanpa harus membuat pembuktian kepada siapa pun. Di sisi lain, sisi gelap di dalam diri ini ternyata masih sangat tebal dan menghalangi saya untuk bisa melihat Clarity of Purpose itu. 

Di satu sisi saya sebenarnya sudah berada di jalan yang seharusnya. Sebuah tangan ajaib meletakkan saya di jalan ini, bak meletakkan sebuah bidak catur. Di sisi lain saya masih ragu-ragu melangkah. 

Pagi tadi saya merenung kembali. Sesungguhnya, anugerah terbesar dari Tuhan adalah nafas, kesehatan, dan waktu. Saya masih memiliki ketiganya. Yang harusnya saya manfaatkan dengan baik. Tapi saya malah bertahan di zona nyaman. Keberanian dan modal nekat yang saya punya dulu, menguap entah kemana. Berganti dengan keraguan-keraguan. 

Saya bertanya ke diri sendiri: Jadi, kamu mau apa? 

Dan itulah yang mendorong saya untuk mencari artikel itu lagi. Dan bertanya lagi ke diri sendiri: Ketika seluruh ambisi yang bersumber dari luka batin, kemarahan, dan keinginan untuk membuktikan diri sudah tidak lagi relevan,  jadi, kamu mau apa?  

Belum ada jawaban yang sangat jelas. Tapi saya menemukan sebuah jawaban samar-samar. Saya hanya ingin menulis. Hanya itu satu-satunya yang selalu saya inginkan sejak kecil. Bahkan ketika saya baru mulai bisa membaca. 

Tapi, mungkin saya harus lebih serius dan rajin bermeditasi dan meningkatkan self-awareness. Untuk meluaskan cara pandang, meluruhkan seluruh sisi gelap yang menghalangi saya menemukan Meaningful Purpose itu.

 

Jakarta, 27 Desember 2025

 

Related Articles