Seekor buaya mati di Sungai Lenggang, di Desa Gantung, Belitung Timur. Bangkainya mengambang di tepi sungai, di dekat pemukiman penduduk. Ukurannya fantastis. Sudah membengkak karena tampaknya sudah ada di sana selama berhari-hari. Kata Bang Anto, rekan dari Yayasan Tarsius Center Indonesia yang menemani kami, kemungkinan mati karena diracun oleh orang-orang yang merasa terancam dengan seringnya buaya muncul ke daratan.
Sudah sering buaya di Sungai Lenggang ini mengambil korban. Kadang nelayan yang sedang membersihkan perahu. Kadang warga yang sedang memancing. Kemarin si Ardi bercerita, ia pernah ikut membelah perut buaya. Di dalamnya ada paha manusia. Setelahnya ia tidak bisa tidur selama seminggu karena trauma.
Sungai Lenggang di Belitung adalah habitat buaya-buaya muara (Crocodylus porosus). Mereka beranak-pinak dengan tenang di dasar sungai. Hulu Sungai Lenggang berada di Tebat Rasau di Desa Lintang, dan bermuara di Selat Karimata. Panjangnya sekitar 60 kilometer. Disebut tebat rasau karena kawasan ini dipenuhi tumbuhan rasau (Pandanus helicopus), sejenis tanaman yang mirip pandan, namun pohonnya lebih besar dan berduri. Tebat Rasau juga sering disebut sebagai sungai purba, yang konon telah terbentuk sejak 65 juta tahun lalu. Pohon rasau disebut sebagai penjaga ekosistem sungai purba dan menjadi tempat berlindung satwa liar.
Sore itu, saya dan beberapa rekan dari Yayasan KEHATI menyusur Sungai Lenggang karena diajak oleh teman-teman dari Tarsius Center Indonesia. Kami menggunakan sebuah perahu motor (speedboat) yang baru saja mereka beli. Saya tidak mengira sungai Lenggang sebesar ini. Arusnya tenang. Namun semua sudah tahu. Di balik arus tenang ini adalah rumah para buaya. Kami menyusur sungai selama 30 menit ke Bendungan Pice, sebuah bendungan yang dibangun sejak jaman Belanda. Lalu putar balik ke arah kami naik tadi. Jadi, kami membutuhkan waktu lebih dari sejam pulang pergi.
Kata mereka, berperahu pada malam hari akan lebih menyenangkan sekaligus menegangkan, terutama bagi yang menyukai aktivitas ekstrim. Buaya-buaya akan muncul pada malam hari, naik ke permukaan. Biasanya mata mereka yang berwarna merah akan menyala dalam kegelapan. Tapi saya sungguh tidak tertarik. Tidak, saya tidak tertarik menonton aktivitas buaya. Buat saya buaya bukan hewan lucu yang bisa ditatap berlama-lama. Hari ini saya ikut hanya karena tidak bisa menolak. Mereka sudah mempersiapkannya.

Saat pergi itulah, kami melihat bangkai buaya itu dari kejauhan. Kami mengira seekor sapi ternak milik penduduk. Kata Bang Anto pas kami berangkat, "Nanti malam juga bangkai sapi itu akan habis dimakan buaya."
Tapi saat kembali dan mengambil jalur jalur di sisi sebelah, barulah kami sadar bahwa itu adalah seekor buaya. Aromanya sudah menyengat. Teman-teman mengingatkan agar kami tidak terlalu lama mengambil foto. Siapa yang tahu jika di sekitaran bangkai itu teman-temannya sedang mengintai, menunggu waktu untuk balas dendam.
Saat turun dari perahu dan naik ke tepian, saya menemukan seorang anak kecil sedang memancing. Ia duduk sendirian di tepian tanggul saluran irigasi. Di tepian Sungai Lenggang tersebut adalah area kebun dan sawah. Ada sebuah saluran irigasi yang dibangun pemerintah. Di sanalah anak tersebut duduk. Ia berharap mendapatkan seekor kakap.
"Kamu sering melihat buaya di sini?" Saya bertanya. Ia mengangguk. Ia bilang, biasanya buaya muncul sore hari. Saluran irigasi ini terhubung langsung dengan sungai. "Kamu tidak takut?" Saya bertanya lagi, ia menggeleng. "Kamu memancing sampai malam?" Ia jawab tidak. Kalau malam ia harus beristirahat karena besoknya harus sekolah.
Kata teman-teman lagi, rumput dan semak-semak di sekitar tempat kami berdiri adalah tempat para buaya bertelur. Mereka menyembunyikan telurnya di balik rerumputan, menunggu hingga menetas dan siap dibawa ke sungai. Saya merinding membayangkan jalan malam-malam di sini dan bertemu mereka.
Sepanjang hari itu, Dira terus mengulang-ulang soal rencana membangun ekowisata sungai dengan atraksi utama pengamatan buaya. Saya bilang, saya bukan calon customernya.
Konon, awalnya buaya-buaya di sini tidak pernah mereka memangsa manusia. Mereka hidup dengan dunianya sendiri. Konflik mulai terjadi ketika tambang timah ilegal marak di Desa Gantung. Aktivitas pertambangan mengganggu ekosistem mereka. Aktivitas pertambangan menghasilkan sedimen yang hanyut ke sungai, membuat jadi keruh dan mengganggu penglihatan buaya. Mereka jadi merasa terancam. Sejak saat itulah mereka jadi sering marah dan mengganggu manusia.
Di tepian Sungai Lenggang adalah pemukiman penduduk. Selain penduduk asli, juga banyak nelayan dari Suku Bugis. Maka di sepanjang sungai itu kita akan melihat banyak perahu berjejer. Di atasnya para nelayan akan duduk santai, menunggu waktu malam untuk kembali melaut. Di tepi sungai itu juga ada sebuah pasar tradisional tempat masyarakat menjual ikan dan berbagai macam kebutuhan dapur.
Sebelum ke Desa Gantung, saya mampir ke Desa Lintang dan bertemu Pak Nasidi. Ia adalah penjaga Tebat Rasau. Katanya, jika tidak dijaga, Tebat Rasau juga sudah lama hancur oleh tambang timah. Pak Nasidi adalah orang cerdas. Namun ia sering tidak percaya diri karena merasa tidak punya pendidikan tinggi. Saya bilang, ia tidak punya ijasah namun punya banyak pengalaman. Dan memang benar. Pak Nasidi bahkan hapal nama-nama ilmiah pohon-pohon di hutan. Ia juga bisa tahu semua jenis flora dan fauna yang ada di Tebat Rasau. Pak Nasidi mendedikasikan hidupnya untuk itu. Ia tinggal di sebuah pondok sederhana di tepi tebat.
Di Tebat Rasau, Pak Nasidi bersama Tarsius Center Indonesia sedang berjuang membangun ekowisata pengamatan tarsius dan lutuh putih. Bukan hanya untuk profit, tapi untuk menjaga mereka. Lutung putih dan tarsius merupakan 2 satwa yang masuk kategori terancam punah menurut International Union of Conservation Nature (IUCN). Tapi saya melihat, hutan yang menjadi habitat bagi lutung putih dan tarsius itu, sisa sepenggal. Terus menyempit, dipepet kebun sawit yang terus dibuka masyarakat. Rupanya Pak Nazidi punya kegelisahan serupa. Ada sebuah hutan lain di tepian Tebat Rasau yang masih terjaga. Ia berharap, jika hutan tempat lutung putih tersebut habis, mereka bisa membawa kawanannya untuk pindah. "Kalau lutung putih, bisa pindah sendiri ke sana jika terancam. Yang kami pikirkan adalah tarsiusnya. Tarsius adalah hewan sensitif," katanya.
Lutung putih dan tarsius bukan hewan agresif seperti buaya. Mereka tidak bisa melawan jika terancam atau diserang manusia yang bersenjata. Tidak punya pilihan selain pindah atau punah. Mas Budi Setiawan dari Tarsius Center Indonesia mengatakan akan membuat inisiatif peraturan desa untuk menyelamatkan hutan tersebut.
Belitung, 31 Juli 2026
