Esai

Kembali ke Banda Neira: Rempah, Paus, dan Lumba-lumba
Penampakan ikan lumba-lumba di laut Banda Neira - ©Anis Syahrir

Kembali ke Banda Neira: Rempah, Paus, dan Lumba-lumba

Kali ini saya datang pada waktu yang tepat. Laut Banda Neira sangat tenang pada Bulan November. Saya belum pernah melihat laut setenang ini.

 Ini kondisi yang berbanding terbalik dengan apa yang saya alami ketika datang pada Bulan Juni tahun 2023 lalu.

Ketika itu, saya bahkan tidak sanggup menuju Pulau Pisang—yang biasa juga disebut Pulau Syahrir—yang jaraknya tidak sampai setengah jam berperahu dari Banda Neira. Ombak datang bergulung-gulung tanpa bisa diprediksi waktunya.

Pada perjalanan kali ini, saya menemukan kebetulan yang ajaib dan menyenangkan. Di atas pesawat dari Ambon, saya bertemu sepasang suami istri—Bu Fani dan Pak Rangga—yang akhirnya menjadi teman seperjalanan selama seminggu. Keduanya dari Solo yang sedang traveling ke Maluku. Sebelum ke Banda Neira, mereka terlebih dahulu ke Ora. Hal yang lucu adalah, meski baru pertama kali bertemu, kami seperti sudah kenal lama.

Bang Maga (Magafira Ali), rekan saya yang juga bekerja sebagai guide di Banda Neira, mengaku merasa heran. Hal pertama yang membuat heran, kata dia, adalah bahwa saya bisa mendapatkan tiket pesawat kecil pulang-pergi dari Ambon ke Banda. “Sangat jarang saya bisa menemukan orang ke sini yang bisa dapat tiket pesawat pulang,” katanya. Pesawatnya milik Smart Aviation. Namanya Smart Air. Konon, operasionalnya mendapat subsidi dari pemerintah.

Menginjakkan kaki di Banda Neira memang tidak mudah. Setidaknya tidak semudah di Jawa yang kamu bisa ke sana-ke mari sesuka hari dengan transportasi yang cukup lengkap dan terjangkau. Smart Air hanya terbang 2 kali seminggu—jika cuaca mendukung. Tapi ada kalanya jadwal dua kali seminggu itu tidak muncul dalam sebulan. Akhirnya, banyak pelancong yang lebih memilih naik kapal Pelni yang rute dan jadwalnya bisa dilihat maksimal 1 bulan sebelum keberangkatan. Dengan kapal Pelni, pelayaran ditempuh selama 17 jam.

Pilihan lainnya adalah kapal cepat (5-6 jam), yang berangkat setiap hari Kamis dari Pelabuhan Tulehu Ambon, dan kembali pada hari Minggu. Oya, saya juga bertemu dengan Mas Hariez, dari Bandung yang secara kebetulan menginap di homestay yang sama. Ia bercerita, pada 2017 lalu sempat berencana ke Banda. Namun karena tidak ketemu jadwal kapal, ia putar haluan ke Ora. Banda Neira dan Pantai Ora adalah dua destinasi utama di Kepulauan Maluku.

Pulau Gunung Api -   ©Anis Syahrir

Hal kedua, di sekitar perairan Pulau Syahrir, kami menemukan begitu banyak rombongan lumba-lumba. Perahu yang kami tumpangi dikelilingi lumba-lumba. Mereka berloncatan di permukaan air laut. Beberapa ekor mengikuti perahu kami. Ini adalah pengalaman pertama saya menjumpai lumba-lumba di laut lepas. Maka saya merasa takjub.

Di hari ketiga, kami menuju Pulau Rhun. Bang Maga bilang, spot snorkeling sangat bagus di Pulau Nailaka dan Ay, yang berdekatan dengan Rhun. Dan benar saja. Sayangnya, arus laut cukup kuat. Jika ingin snorkeling, kita mesti menggunakan tali yang diikatkan ke perahu agar tidak hanyut jauh terbawa arus.

Di Rhun, kami berkunjung ke Rumah Besi, yang dulunya digunakan sebagai istana oleh orang-orang Inggris ketika menguasai Rhun. Bangunan istana yang tinggal rangka itu terletak di atas ketinggian, dikelilingi kebun pala. Di sisinya ada sebuah sumur besar, yang menjadi penampungan air. Bang Maga bilang, dulu

di Rhun banyak pohon kenari. Tapi ketika tentara Inggris kalah, mereka menebangi semua pohon kenari dan hanya menyisakan pohon pala.

Dari Rumah Besi, kami menyusuri perkampungan menuju rumah perkeneer dan bekas bangunan gereja. Sama seperti Rumah Besi, bangunan itu tinggal rangka. Namun, pada bekas bangunan rumah perkeneer, masih tampak sisa-sisa kemewahan di masa lampau. Sangat luas dan bangunan terlihat kokoh meski sudah berlumut.

Dalam perjalanan kembali ke Pulau Neira, kami bertemu lagi dengan rombongan paus. Ada yang sedang membawa anaknya. Bang Maga bilang, paus sekarang sedang banyak di sekitaran Pulau Hatta, sebuah pulau lainnya yang berasa di belakang punggung Pulau Lonthoir. Lalu ia sangat bersemangat mengajak kami ke Pulau Hatta untuk mencari paus. Saya tidak tahu apakah ia ingin menujukkan kepada kami, atau dia sendiri juga turut penasaran. Hahaha. Sebab ketika pada akhirnya kami benar-benar mengejar paus keesokan harinya, ia kena omel Pak Rangga. “Kalian ini orang sini apa orang kota sih? Masa liat paus teriak-teriak?” Bagi Pak Rangga, kami yang orang kota ini, lebih pantas berteriak liat paus ketimbang mereka.

Bang Maga bilang, ia pun, dan orang-orang Banda Neira lainnya, sangat jarang melihat paus. Rombongan paus dan lumba-lumba datang pada Oktober hingga November. Mereka berasal dari perairan Australia, datang ke Banda Neira untuk spawning. Beberapa minggu lalu, ia bilang, ada nelayan yang melihat seekor paus melahirkan di dekat Pulau Syahrir. Air laut jadi berwarna merah. Paus adalah mamalia. Biasanya, rombongan mereka akan meninggalkan Banda Neira begitu selesai melahirkan.

Tapi terlepas dari semua itu, Bang Maga bersemangat menemani kami karena ia merasa kami adalah orang-orang yang penuh keberuntungan. Ia bilang, turis-turis yang datang bisa melihat seekor dua ekor. Tapi kami dapat banyak sekaligus. Plus, kami bisa melihat paus meloncat dan tenggelam kembali menyisakan ekornya yang indah itu dengan mode slow-motion. Dari dekat pula. Baginya, itu pertanda kami membawa keberuntungan. 

Buat saya, lumba-lumba dan paus di Banda Neira sangat berbeda. Mereka sangat indah. Mistik. Magis. Ajaib. Mereka berenang dengan tenang, kalem, anggun penuh pesona. Tidak bisa disentuh seperti halnya di tempat-tempat wisata lainnya. Sungguh sebuah keindahan yang tak terlukiskan kata-kata. Kami hanya menyaksikan dari jauh, dan diam-diam berdoa dalam hati agar mereka senantiasa selamat dalam perjalanan pulang ke Australia, membawa anak-anak yang baru lahir itu.

Saya sempat googling untuk mencari tahu kenapa mereka datang ke Banda Neira pada akhir tahun. Menurut berbagai sumber, rupanya perairan Banda memang menjadi salah satu rute utama migrasi paus. Salah satu faktor yang mendukung adalah kekayaan hayati yang mendukung proses upwelling (proses naiknya air laut yang dingin ke permukaan). 

Tempat belajar anak-anak di rumah pengasingan Bung Hatta - ©Anis Syahrir

Di Banda Neira, saya sempat berkunjung ke rumah pengasingan Bung Hatta, Syahrir, dr Cipto Mangunkusumo, dan Sutan Alisjahbana. Saya menemukan hal yang sama di bangunan-bangunan tua ini, yang membuat saya memikirkan satu hal: Tidak begitu pentingkah merawat bangunan-bangunan ini demi sejarah? Di ruang tidur dr Cipto, saya menemukan tempat tidur besi yang sudah berkarat—dan saya yakin akan hancur pada saatnya. Saya juga menemukan sebuah steteskop dan pakaian dokter berwarna putih yang sudah berdebu. 

Barang-barang di rumah Bung Hatta kondisinya lebih baik. Tempat tidurnya—dengan kelambu putih—tampak masih awet. Namun ada kursi rotan yang sudah sobek. Dan saya berpikir, bagaimana jika kursi ini disimpan dalam sebuah etalase sehingga tidak bisa disentuh pengunjung dengan bebas? Di sebuah bangunan di bagian belakang, ada sebuah papan tulis dan kursi-kursi belajar seukuran tubuh anak-anak. Ada tulisan asli Bung Hatta di papan tulis itu yang sudah mulai hilang. Saya bertanya kepada Bang Maga. “Bagaimana seandainya papan ini dibungkus dengan plastik agar tulisan itu tetap awet? 

Di rumah pengasingan Bung Syahrir, saya menemukan banyak barang peninggalan khas seorang negarawan intelek. Mesin tik tua. Meja kerja. Tas. bolpoin. Buku-buku. Waktu berlalu dengan cepat. Tapi kadang kala, banyak hal yang masih terjaga dan bisa dilihat oleh generasi berikutnya. 

Bang Maga juga mengajak kami ke Lonthoir untuk melihat perkebunan pala dan kenari. Di sana, kami mencicipi teh kayu manis dengan aroma yang segar dan menenangkan. Juga kopi pala. Petani di sana menunjukkan cara mengelupas batang kayu manis, serta cara membelah buah pala dan kenari. Tapi saya kecewa ketika menyadari bahwa pohon kenari yang saya tanam 2023 lalu di Hutan Kele, ternyata sudah hilang tak berbekas. Padahal, dulu saya mendoakannya agar hidup hingga 400 tahun. Pohon-pohon kecil lainnya juga sudah hilang.

Sebuah perkebunan pala tua di Pulau Ay ©Anis Syahrir

Banda Neira sangat kaya akan sejarah dengan keindahan alam yang memukau. Sejarah masa lampau banyak terukir di sini. Ini adalah pulau di mana rempah-rempah tumbuh dengan kualitas terbaik di dunia. Jika kau ingin datang ke sini, datanglah pada Bulan November, ketika cuaca sedang sangat bagus. Kalau beruntung, kau bisa melihat lumba-lumba yang berloncatan dengan riang. Serta paus yang berenang dengan tenang dan anggun. Oh ya. Jangan lupa mempertimbangkan jadwal kapal laut sebelum memesan tiket pesawat.

 

Ambon, 09 November 2025

Related Articles