Kele

 

Pertemuan saya dengan Pak Akang Kamudi adalah sebuah kebetulan yang ajaib. Dalam perjalanan dari kantor saya di Batu Koneng, Ambon ke hotel tempat nginap, saya dapat driver Gojek yang cerewetnya minta ampun.

“Kaka ada kerja apa di sini? Jalan-jalan ke mana? Kaka kerja di mana?”

Saya menanggapi sekadarnya. Kemudian karena dia menanyakan tentang Banda, percakapan jadi panjang. “Kaka sudah ke Banda juga?”

“Saya ke Banda Sabtu besok, naik pesawat,” jawab saya.

Ia tampak tertarik. Ia menawarkan sebuah nomor kontak yang saya tidak tahu entah siapa. Tangan kanan memegang setang motor, tangan kiri memegang ponsel dan membuka Facebook. Ia memperlihatkan akun seseorang. Tentu saja saya tidak tertarik. Untuk apa juga saya kepo sama Facebook orang. Di atas motor pula, sambil merayap di jalanan yang padat.

Driver Gojek ini lalu membawa saya nyasar ke alamat lain. Harusnya ke Hotel Amaris, malah ia membawa saya ke Hotel Amans. Dalam hati saya menggerutu: “Makanya fokus. Jangan sambil ngajak penumpang ngobrol.”

Ketika tiba di hotel, saya langsung masuk. Tapi si driver ini malah memanggil dengan wajah memelas. Saya berhenti bukan karena tertarik dengan kontak yang hendak ia berikan. Tapi karena iba dengan wajah memelasnya.

“Kaka jadi kah ambil kontak ini?” katanya.

Driver ini benar-benar menguji kesabaran saya. Tadi pas nerima orderan saya, dia masih makan. Kemudian nge-chat: “Kaka, beta masih makan bakso. Tapi su mau habis. Kaka bisa tunggu kah?” Kemudian di atas motor dia mengajak ngobrol. Lalu membawa saya nyasar ke tempat yang jaraknya lumayan jauh dari hotel tempat nginap. Dan sekarang ia memaksa mau ngasih kontak orang tidak saya kenal.

“Memangnya orang itu siapa?”

Bukannya menjawab, ia malah kembali memperlihatkan sebuah akun Facebook. Ketika melihat akun itu, postingan pertama yang saya lihat adalah foto Ibu Rut Krüger Giverin, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia. Saya jadi penasaran. Salah satu program di kantor saya, EcoNusa, didukung oleh Pemerintah Norwegia. Dan seingat saya, Ibu Rut memang pernah ke Banda Neira untuk berlibur. Akun tadi, Pak Akang Kamudi, me-repost postingan Ibu Rut ketika sedang berada di sebuah area hutan kenari. Kemudian dalam kunjungan ke Banda, di sana saya tahu hutan itu disebut Hutan Kele.

“Saya kenal orang di foto itu. Ya sudah. Sini, mana nomornya?”

Lalu ia pun memberikan kontak Pak Akang. Setelahnya, driver Gojek tersebut pulang dengan wajah ceria. Seperti baru saja menyelesaikan sebuah misi istimewa.

Di Kepulauan Banda, setelah istirahat, tempat yang pertama saya kunjungi adalah Desa Lonthoir. Desa ini terletak di Pulau Banda Besar, sekitar 20 menit naik perahu dari Banda Neira. Kami berangkat berlima. Selain saya, ada Deybra staf kantor Maluku, Dirman staf lapangan di Banda, Acong si driver perahu, dan Bang Maga. Bang Maga adalah pengelola bank sampah di Kepulauan Banda, sekaligus seorang tour guide profesional.

Saya punya list panjang orang-orang yang saya hendak temui di Lonthoir. Bisa menghabiskan waktu sehari penuh. Tapi ternyata kami tidak bisa tinggal sampai sore. Bang Maga harus pulang cepat karena ada acara memperingati hari ke-40 wafat ibunya.

Tempat terakhir yang kami kunjungi akhirnya adalah Hutan Kele. Hutan Kele adalah sebuah hutan tua di Lonthoir. Yang menarik saya ke sana adalah rasa penasaran tentang sistem pengelolaan ekowisatanya. Mereka melabelinya dengan ekowisata pala. Di dalam Kele kamu akan takjub melihat pohon-pohon besar. Selain pala, ada pohon kenari raksana berumur ratusan tahun. Menjulang tinggi dengan ranting lebat, dan akar-akar raksasa yang menyembul ke permukaan tanah.

Di sana ada juga beberapa tanaman yang tampak masih baru ditanam. Setiap pohon memiliki label nama dan dipagari dengan pagar bambu. Dirman mendekati salah satu tanaman dengan label: Ibu Kedubes Norwegia, Jumat 12 November 2021. Pada detik itu saya sadar bahwa Pak Akang adalah pengelola Hutan Kele. Dan saya takjub bahwa tanaman pertama yang kami temukan adalah milik Ibu Rut.



Kami tidak lama di Hutan Kele. Setelah berfoto, kami jalan ke dermaga untuk kembali ke Banda Neira. Hari itu saya tidak ada rencana kembali ke Lonthoir. Narasumber yang saya wawancarai hari itu sudah cukup mewakili. Lagipula, masih ada agenda ke Pulau Rhun, Gunung Api, dan Pulau Pisang. Tidak akan sempat kembali ke Lonthoir lagi.

Cuaca yang tidak menentu membuat saya mengubah rencana. Bahkan Pulau Pisang yang relatif lebih dekat pun kami tidak sempat. Cuaca bisa berubah tiba-tiba. Badai. Gelombang sangat tinggi. Lalu saya tidak henti memikirkan Hutan Kele, Pak Akang, dan Ibu Rut. Saya bilang ke Deybra, sepertinya saya harus kembali ke Lonthoir. Saya seperti merasa terpanggil. Apalagi dengan banyaknya kebetulan yang saya temui. Pada hari ketiga di Banda, saya kembali ke Lonthoir, menemui beberapa narasumber tambahan dan mencari Pak Akang Kamudi.

Rumah Pak Akang ternyata hanya berjarak beberapa belas meter dari Hutan Kele. Di pagar rumahnya ada sebuah papan bertuliskan: SEKRETARIAT KELOMPOK TANI HUTAN: P3B Pemuda Penggerak Penghijau Banda. Di halaman rumahnya ada rumah pembibitan. Bibitnya tampak subur dan sehat. Ada bibit pala dan kenari. Di sebelah rumah pembibitan ada jemuran buah pala.

Pak Akang tampak bingung melihat kami. Saya sendiri juga merasa bingung. Sebab saya tidak tahu tujuan saya menemuinya. Kemudian, saya membuka obrolan dengan menanyakan bibit-bibit tanaman di halaman rumahnya. Ia bercerita dengan semangat. “Itu bibit kenari. Ada pala juga. Saya bagikan saja kepada orang.”

Pak Akang bercerita, ia tergerak membuat kelompok pembibitan atas inisiatif sendiri. Pala dan kenari adalah tanaman khas di Lonthoir dan Banda secara umum. Namun sudah jarang orang membibitkan pohon kenari. Buah kenari yang dijual keluar dari Banda kebanyakan diambil dari hutan, dari pohon yang sudah berumur ratusan tahun. Buah kenari yang sudah matang biasanya akan jatuh sendiri ke tanah.


Pak akang juga membeli pala dari masyarakat Lonthoir. Semacam pedagang pengumpul. Pala yang terkumpul ia jual ke luar, ke perusahaan yang lebih besar. Beberapa bulan terakhir ini, ia bekerjasama dengan PT KOBUMI, sebuah perusahaan sosial yang fokus pada komoditi dari wilayah Indonesia Timur. Untuk setiap kilogram buah pala yang terjual, ia menyisihkan Rp 1.000 untuk membiayai rumah pembibitannya.

“Saya adalah putra daerah Banda. Saya tergerak untuk melestarikan tanaman ini. Dan untuk menjaga bumi. Kalau bukan saya yang jaga Banda, siapa lagi?” jelasnya.   

Yang meminta bibit pada Pak Akang bukan cuma masyarakat. Terkadang, desa dari kampung sebelah juga minta dikirimi bibit. Sayangnya belum semua ia bisa penuhi. Peralatan transportasi antar pulau adalah kendalanya. Anggarannya masih terbatas. Lalu ia pun memiliki ide untuk mengajak turis-turis yang datang ke Banda untuk menanam di Hutan Kele. Semacam sistem adopsi. Setiap tanaman dihargai Rp 25 ribu saja. Tidak ada biaya tambahan atau retribusi untuk masuk ke Hutan Kele. Pada musim panen, turis-turis bisa ikut memanen pala bersama masyarakat. Banda Kepulauan sangat ramai pada bulan Agustus hingga Desember. Turis dari mancanegara berdatangan. Kepulauan Banda sangat populer untuk wisata Sejarah.

“Mbak mau ikut menanam kah?” Pak Akang bertanya kepada saya.

“Tidak, terima kasih.” Entah mengapa saya refleks menolak. Di kepala saya, bisa menanam pohon di Hutan Kele adalah sebuah kehormatan dan kesempatan istimewa. Saya merasa tidak percaya diri.

“Ah tidak. Ayo kita jalan,” Pak Akang mendesak lagi.

Akhirnya saya tidak bisa menolak. Dan ternyata saya menerimanya dengan sukacita.


Di dalam Hutan Kele ternyata ada satu rumah bibit lagi. Pak Akang memilihkan satu bibit kenari untuk saya, kemudian mencari tempat yang paling pas untuk menanam. Ia menyerahkan sebuah lingggis untuk menggali tanah. “Mau gali sendiri kah?” Ia menawarkan. Saya menerima dengan senang hati.

“Semoga pohon yang saya tanam bisa tumbuh subur dan berumur panjang. Sampai 300 atau 400 tahun. Seperti pohon yang lain,” kata saya. Pohon-pohon kenari raksasa di sana sudah ada sejak sebelum era penjajahan VOC. Tidak ada yang tahu pasti umurnya berapa.

“Iya. Tapi jangan menunggu sampai ratusan tahun. Harus ke sini lagi untuk jenguk pohonnya,” jawab Pak Akang.

Hari itu, saya kembali dari Lonthoir dengan penuh sukacita. Saya baru saja menanam pohon di hutan tertua Kepulauan Banda. Inilah humor pertama dari Semesta yang saya terima. Humor yang sangat menyenangkan tentunya.

Posting Komentar

0 Komentar